Artikel

SATC TALK BATCH #3 SENI MENGERJAKAN TUGAS

Purwokerto (08/01) - Guna mengedukasi dan mencegah adanya prokrastinasi akademik dikalangan mahasiswa, Student Advisory and Training Center (SATC) Universitas Muhammadiyah Purwokerto bersama dengan Trainer, Konselor, Researcher Biro Konsultasi Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto serta Duta Genre Universitas Muhammadiyah Purwokerto, menyelenggarakan webinar dengan tema "Seni Mengerjakan Tugas" pada Jum’at (08/01).

Kegiatan ini diprakarsai oleh Student Advisory and Training Center (SATC) Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang diselenggarakan secara virtual melalui zoom dan akun youtube Kemahasiswaan UMP. Webinar ini diikuti kurang lebih 500 peserta dari segala unsur dan dibuka oleh Azmi Hanifah sebagai moderator dalam SATC Talk Bacth #3 serta dengan kehadiran dua pembicara ahli yaitu Herdian, S.PI., M.PSI dan Hilman Taofik Hidayah.

Paparan pertama dijelaskan oleh Herdian, S.PI., M.PSI selaku Dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan juga sebagai Trainer, Konselor, Researcher, Biro Konsultasi Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Beliau menjelaskan mengenai fenomena yang serius dan penting untuk dibahas terkait dengan prokrastinasi akademik. Prokrastinasi adalah suatu bentuk penundaan yang dilakukan berulang-ulang dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugas yang menjadi tanggung jawab. Ciri-ciri dari prokrastinasi akademik yaitu adanya penundaan menyelesaikan tugas, keterlambatan mengerjakan tugas, kesenjangan waktu dan melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan. Herdian menjelaskan bahwa faktor penyebab prokrastinasi akademik muncul adalah dari internal terkait persepsi dan ekternal terkait dengan dosen, lingkungan akademik ataupun institusi.

Herdian mengatakan bahwa kebanyakan kasus dari prokrastinasi terjadi akibat permasalahan psikologis. Terdapat kasus yang terjadi di Indonesia mengenai prokrastinasi akademik yang dialami seorang mahasiswi berprestasi disalah satu perguruan tinggi negeri terbaik. Mahasiswi tersebut adalah mahasiswi yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah serta mendapatkan uang saku perbulan sebesar 1,5 juta.

Pada semester awal mahasiswi tersebut dianggap menjadi salah satu pesaing berat dalam kompetensi belajar, dikarenakan nilai yang didapat sangat bagus, selain itu dia juga sangat aktif dalam kegiatan organisasi di perguruan tinggi. Namun 3 tahun kemudian mahasiswi tersebut mengalami kelonjakan nilai yang cukup drastis serta menjadi malas dalam belajar, hal tersebut mengakibatkan dia masuk kedalam daftar buku catatan kemahasiswaan karena dianggap melakukan prokrastinasi akademik yang cukup parah. Di semester 8, mahasiswi tersebut tidak lagi mendapatkan beasiswa atau bisa dikatakan beasiswa tersebut telah dijabut oleh pemerintah, selain itu apabila dalam 13 semester dia tidak dapat menyelesaikan studinya maka wajib untuk mengembalikan seluruh beasiswa dan uang saku selama 4 tahun. Pokok permasalahan yang menjadi alasan mahasiswi tersebut mengalami prokastinasi akademik yaitu yang pertama usaha yang dimiliki mahasiswi tersebut gagal, yang kedua terdapat masalah pertemanan karena menghilangkan barang milik temannya, dan yang terakhir karena dipermalukan dimuka umum oleh teman dekatnya.

Dari kasus tersebut Herdian menjelaskan terdapat hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam prokrastinasi akademik yaitu bagaimana seorang individu merespon suatu stimulus, karena setiap individu dalam merespon suatu stimulus berbeda-beda, ada yang menganggap masalah yang dihadapi itu sepele dan ada pula yang menganggap masalah yang dihadapi itu berat. Herdian memberikan pesan “Saat ini kamu adalah produk yang ditanamkan belasan tahun, belasan tahun lalu yang akan datang tergantung apa yang ditanamkan hari ini, lakukan perubahan detik ini juga”.

Paparan kedua dijelaskan oleh Hilman Taofik Hidayah selaku Duta Genre Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan Mahasiswa Berprestasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Hilman menjelaskan prokrastinasi akademik adalah suatu kondisi seseorang sudah mengetahui apa yang mereka lalukan dan ingin mencapai target, namun gagal dan tidak sesuai dengan waktu yang telah dilakukan, dimana hal tersebut terjadi karena adanya penundaan. Berdasarkan artikel penelitian 87% orang mengalami prokratinasi akademik. Selain itu Hilman menjelaskan beberapa tipe dari prokratinasi akademik seperti disfungctional procrastination, functional procrastination, task-related procrastination dan person-related procrastination.

Hilman juga menjelaskan bagaimana cara mengatasi prokratinasi akademik yaitu dengan mencatat setiap tugas yang ada, membagi pekerjaan yang besar menjadi pekerjaan yang kecil, mengalokasikan waktu untuk mengerjakan tugas, menggunakan teknik 5 menit dan selalu mengatur skala prioritas. Selain itu juga Hilman menambahkan pentingnya untuk melawan prokrastinasi akademik dengan pengalihan distraksi, berani untuk mencoba, mengontrol diri, berkomitmen, mengatur tujuan lebih jelas, dan mengoptimalkan lingkungan yang nyaman. Hilman memberikan pesan bahwa prokrastinasi akademik merupakan masalah komplek yang dapat dihadapi semua orang, namun pada dasarnya dapat diatasi dengan mengontrol diri.

ARTIKEL

Sistem Informasi

Social Media

Unit BKA